#Wedding : Hunting Cincin Kawin di Solo

Ketika kepikiran nikah, hal pertama yang biasa terlintas adalah CINCIN KAWIN! Dari pengalaman teman-teman, banyak yang galau memilih dan menentukan cincin kawinnya. Bagiku & Zaga, cincin kawin itu nggak perlu ribet. Bahkan kami nggak kepikiran untuk beli cincin macem2, misal cincin tunangan karena bakalan waste of money. Maunya langsung beli cincin kawin. Sehingga kami memutuskan untuk beli cincin tunangan, sekaligus nanti dipakai sebagai cincin kawin, biar hemat.

Awalnya aku nggak minta cincin karena nggak suka pakai perhiasan & lebih milih dibeliin emas batangan aja untuk investasi. Tapi dengan pawakanku yang kelihatan muda banget kayak masih kuliahan & sering banget digodain hingga dimintain nomor HP sama orang tak dikenal, bikin akhirnya pengen punya cincin kawin buat tanda : udah nikah lho ini. LOL.

Mepetnya waktu acara tunangan bikin kita juga harus cari tempat jualan cincin yang bisa cepet, terutama karena ukuran jari kita berdua (bella aja sih) yang kecil banget.

Dari pengalaman cari cincin kemarin, aku dapat beberapa tips dan mau ku-share biar teman-teman nggak bingung dalam menentukan cincin kalian hehe.

Preferensi Bella Zaga
Kami berdua memilih desain elegan dan minimalis, karena kami berdua memang suka yang simpel agar kesannya “timeless”. Aku juga consider untuk memilih custom ring, supaya halah dipakai sama laki-laki dan bisa menggunakan bahan palladium karena lebih keras dan lebih awet daripada silver.

TIPS MEMBELI CINCIN KAWIN

1. Ketahui dulu bahan cincin yang akan dipakai.

Cincin dari Palladium

Sebagai muslim, kita tentu tahu kalau laki-laki dilarang menggunakan emas & sutra. Maka dari itu, bahannya juga perlu diperhatikan. Untuk alternatif emas, bisa menggunakan silver, titanium atau palladium. Kalau aku sih menyarankan pakai palladium saja, karena bahannya lebih keras & awet daripada silver, namun lebih mahal, terutama yang kadarnya tinggi. Tapi kalau mau pakai silver sih nggak papa, hanya saja mungkin nanti bakalan gampang “penyok”. Cincin Palladium bisa kalian beli di toko perhiasan custom yang sekarang mulai banyak jasanya.

2. Ketahui ukuran cincin kamu & pasangan

Alat Pengukur Cincin

Pastikan dulu tahu ukuran cincin sendiri & pasangan dengan cara nyoba ke toko perhiasan. Biasanya mereka memiliki alat pengukur cincin dan dummy ukuran cincin seperti ini. Tentukan juga ukuran yang nggak terlalu ketat tapi nggak terlalu longgar, karena ketika kita menua mungkin ukuran akan bertambah lebar. Terutama para wanita ketika nanti hamil. Kalau bingung, bisa tanya sama Staff toko perhiasannya yang pasti bisa memberi saran ukuran terbaik. Oh iya, keep in mind juga, jari tangan kiri dan tangan kanan biasanya beda ukuran ya. Tangan kanan lebih besar daripada tangan kiri.
Nah pas kami memilih, jadi agak tricky ketika kita beli cincin yang udah jadi (nggak custom). Jari kita berdua tu kurus-kurus banget. Ketika diukur Zaga ada di ukuran 13 sedangkan aku di ukuran 8. Ternyata cari cincin berpasangan dengan ukuran 13 dan 8 itu susah sodara-sodara. Pilihan model cincin kami jadi limited banget. Maka dari itu, sebenernya paling aman tuh milih custom aja.

3. Model & Warna Cincin

Aku baru tahu kalau tanganku itu nggak begitu cocok dikasi warna emas yang terlalu kuning atau emas muda. Akhirnya pilihan jatuh antara cari emas putih, palladium putih ataupun kalau emas kuning milihnya yang emas tua atau kadar emasnya lebih tinggi hehehe.

Perbedaan warna emas muda & emas tua

Terus, biasanya cincin yang udah jadi, model cowok & ceweknya sama. Jadinya aneh guys. Cincinnya di cewek keliatan pas banget, tapi begitu dipakai cowok, yahhh feminim banget apalagi Zaga tangannya kurus-kurus. Bukan takut maskulinitasnya berkurang ya, tapi ga suka aja aku liatnya. Akhirnya milih style simpel minimalist yang nggak terlalu feminim. Urusan model kayak gini nggak akan susah kalau kalian pesan cincinnya custom. Karena biasanya, model cincin yang cowok nggak pakai batu sehingga akan lebih cocok dipakai oleh si cowok.

Perhatikan juga soal kenyamanan dalam memakai. Banyak banget model cincin yang mlungker-mlungker yang aku nggak nyaman pakainya. Jadi aku pilih yang bener-bener simpel & nyaman dipakai sehari-hari. Karena kata Zaga juga, cincin kawin itu kamu pakainya sampai nggak ngerasa pakai karena itu kayak jadi bagian diri kamu. Bener juga!

4. Tanyakan After Sales

Penting! Kamu perlu tahu layanan After Sales dari toko tersebut misalnya ada kebutuhan ketika warna cincin sudah memudar atau mau di-resize lagi. Beberapa toko emas hanya menjual saja dan nggak melakukan layanan perbaikan atau pencucian. Cari toko emas yang menyediakan layanan cuci atau resize yang mudah 🙂

5. Custom Aja Lah!

Bagi yang mau pesan cincin sesuai keinginan, aku sarankan custom aja lah! Selain bisa milih model dan ukuran pasti-pas, kalian juga bisa milih bahan sesuai budget, hingga pelayanan resize atau after sales yang cukup baik. Kalian bisa coba survey ke daerah Kotagede Yogyakarta yang merupakan daerah pengrajin perak & perhiasan. Atau kalau di Solo, aku ada rekomendasi vendor bernama Nailah Custom Wedding Ring.

Berikut beberapa vendor yang aku datangi untuk urusan cincin :

Nailah Custom Wedding Ring

Ini vendor ter-perfect buat kalian yang mau nikah. Lokasinya agak masuk dan di rumah biasa gitu, tapi ternyata ini cuma showroom dan aslinya mereka punya workshop di Kotagede, Yogyakarta. Jadi aku nggak perlu ke jogja untuk pesan cincin. Mereka desain & produksi sendiri secara langsung cincin-cincin buatannya.
Dia juga punya aftersales yang cukup baik, bisa resize dan recolor kalau warnanya pudar. Selain itu kamu bisa request model yang kamu mau, bahkan cari model di internet untuk diwujudkan. Waktu pembuatan berkisar antara 2-3 minggu. Tapi, akan lebih baik kalau memesan dari jauh-jauh hari.

Semar Nusantara

Ini yang jadi favorite orang-orang & rame banget. Punya banyak model cincin tapi sayang, aku nggak suka warnanya. Emasnya terlalu ngejreng sodara-sodara, tipikal emas muda kalau kata ibuku. Semar Nusantara juga bisa custom, tapi nunggunya 1.5bulan. Sayangnya lagi, susah banget nemu ukuran yang pas di Semar Nusantara. Untuk model, kalau aku bilang cukup pasaran dan bakal banyak yang nyamain hehe. Aku pribadi nggak suka cari cincin di sini.

Mustika Singosaren

Dia punya banyak model, tapi cuma jual emas aja. Nggak bisa resize ataupun aftersales. Selain cincinnya kebesaran semua di tanganku, aku juga nggak nemu model yang pas di sini so, skip aja.

Toko Emas Mahkota Singosaren

Kalau ini, aku nggak menyarankan walaupun ada yang bagus karena pelayanannya sungguh buruk! Kita nggak boleh lihat-lihat dan coba-coba doang soalnya. Jadi kalau lihat & coba, kita harus beli. Gak enak banget ketika aku bilang gajadi malah dimarahin sama staffnya. Dikira beli emas kayak beli kacang goreng kali ya. So, buat yang masih nyari-nyari, gausah lah ke sini. Gak boleh lihat-lihat dulu soalnya. SANGAT TIDAK RECOMMENDED!

Ellegance Coyudan

Ini toko perhiasan langganan orang tuanya Zaga. Di sini memang nggak punya banyak pilihan, tapi model cincinnya minimalis elegan dan banyak yang kusuka. Warna emasnya juga bagus, nggak norak gitu. Ada dua cincin yang aku suka banget, emas putih dan emas kuning. Di sini juga menerima resize dan lama resize cuma 1 minggu aja, menandakan aftersalesnya cukup baik. Ohiya, staffnya ramah banget dan sangat helpful, beda sama toko mahkota yang ada disebelahnya. Yang di sini nih akhirnya dibungkushhh!

Cincin yang akhirnya kami beli dan kami pakai

Baiklah itu tadi cerita soal hunting cincin kawin. Semoga ada tips yang bisa kalian bawa pulang ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED POST

Tutorial Bikin Rekening Dana Nasabah di Mandiri Sekuritas

Satu hal yang bikin males untuk mulai berinvestasi saham adalah : Bikin Rekening Dana Nasabah (RDN). Konon katanya, bikin RDN…

Mahar Saham

Ada hal yang dinilai cukup unik pada hari pernikahan kami. Nggak menyangka juga malah jadi viral. Ya! You're right, yang…

We’re Married!

We're Finally Married at August 23, 2019.

Konsultasi Psikologi di Solo untuk Kesehatan Mental

Menulis ini agak-agak takut, karena stigma masyarakat soal kesehatan mental khususnya di Solo masih belum terbangun. Tapi, aku merasa tergerak…

Scroll Up