Apa Rasanya Pacaran Selama 10 Tahun?

Daridulu pengen berbagi kisah pacaran, tapi ngedraft mulu dengan alasan nggak enak lah ngumbar-ngumbar kemesraan. Tapi cerita kami berdua terlalu seru untuk tidak di bagikan dan berkali-kali aku menemui pertanyaan “kok bisa sih?” dari teman-teman.

bellazaga

So, untuk memperingati White Day ke-10, aku akan mencoba share gimana rasanya pacaran 10 tahun lamanya dan apa aja sih pembelajaran yang kudapat? Yap, pembelajaran. Karena kami berdua sama-sama mengikrarkan diri sebagai pembelajar sepanjang hayat.

You both influence each other

Kelamaan sama aku jadi Playful gini dia wkwk

Walaupun kami beda, tapi sejatinya kami saling mempengaruhi. Aku terpengaruh untuk berfikir logis, Zaga terpengaruh untuk berfikir kreatif. Itu hal yang tidak konkrit ya. Kalau yang konkrit sih, aku suka fotografi dan Zaga jadi suka fotografi juga. Zaga suka game dan aku juga ikutan suka ngegame. Masalah style juga kami saling terpengaruh. Malah aku sering bingung itu sebenarnya style zaga apa style-ku karena ke sini jadi makin bias. Gitulah kalau kamu lama bersama seseorang.

Sering dikira Kakak-Adik

Entah mirip darimana, tapi begitulah adanya. Padahal ya, mukaku kan lebih ke Jawa-Arab gini. Sedangkan Zaga itu Jawa-Kalimantan. Tapi kami sering banget disangka kakak adik atau saudaraan. Bahkan oleh teman yang sudah berkali-kali ketemu kami. Mereka baru sadar setelah misalnya ada yang kasih tahu atau mereka bertanya ke kami. Mungkin juga, karena vibe kami itu biasa aja kalau ketemu orang. Bukan tipikal pasangan yang suka PDA (Public Display of Affection). Aku nggak clingy dan Zaga juga nggak suka gandeng-gandeng aku. Tapi, ketika berdua aja, baru deh dempel-dempel.

Punya Semacam Telepati

Ya…karena udah lama berdua, aku hampir bisa menebak dia mau apa, butuh apa. Zaga juga selalu nanyain “udah sampai di rumah belum?” tepat ketika aku buka pintu kamar. Walaupun aku curiga dia buka Google Maps yang ada sharing location, tapi waktu kutanya ternyata engga, katanya ya cuma chat aja, jadi mungkin udah bisa naker kali ya. Seringkali kami juga chat hal yang sama bersamaan. If you’ve been a person long enough, maybe you’ll gain telepathy connection with them :).

Rasanya Biasa Aja

Saking lamanya bareng-bareng, dekat & nempel-nempel itu biasa. Ketemu itu biasa. Ngobrol juga biasa. Yaudah biasa aja sama dia. Saking biasanya, kalau nggak sama-sama jadi ada yang kurang dan jadi tidak biasa. Hehe.

Tapi Tetap Ada Hal Spesial Yang Bikin Berdebar-debar

Zaga jarang manggil namaku, pasti cuma nyebut aku dengan sebutan Kamu atau Dia. Karena seringnya dipanggil ‘kamu’, aku lemes kek baru kenal gebetan kalau dia nyebut namaku wkwk. Kita juga jarang memperlihatkan PDA di depan orang-orang. Biasa aja kayak temen. Tapi begitu di-cie in, aku bisa malu dan mukaku merah kayak pertama kali di kecengin orang-orang lalu kita berdua salting haha. Terus ya, kalau misal lagi jarang ketemu (aku kerja di Jogja, dia di Solo), terus ngeliat orang yang dari jauh vibes-nya kayak Zaga, bisa deg-degan abis kayak ketemu gebetan pertama kali wakaka.

Dan Tetep, Kalau Jauh Malah Kangen-Kangenan

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Walaupun nih ya, 3 tahun LDR cuma Jogja-Solo doang, kalau orang liat kami LDRnya kayak LDR ujung dunia gitu, alias lebay. Atau, kalau aku di jogja dan pergi lebih jauh misal ke Surabaya (dan sebaliknya juga buat Zaga), masing2 pasti punya perasaan gelisah, kayak gamau ditinggal gitu lho. Terus begitu pulang maunya cepet-cepet ketemu, bodo amat walaupun masih capek, pokoknya maunya ketemu dulu walaupun cuma setengah jam.

We’re so different, but we’re completing each other.

Suatu hari kami berdua pernah ikutan kuis Brain Test. Hasilnya sangat menarik. Aku adalah 75% Otak kanan 25% otak kiri. Sedangkan Zaga adalah 25% otak kanan 75% otak kiri.
Kami berdua bertemu dalam bidang sekolah yang berbeda, walaupun sama-sama IPS. Aku belajar di bidang multimedia, sedangkan Zaga Akuntansi. Jalan hidupku penuh cabang dan saya punya banyak pilihan. Sedangkan, Zaga tetap dalam satu jalur. Bidangku sangat mengandalkan otak kanan dan kreativitas. Bidang yang Zaga jalani sangat mengandalkan otak kiri. Seiring berjalannya waktu, aku malah tertarik di bidang branding dan marketing. Sedangkan Zaga tertarik dalam bidang bisnis dan trading. Semoga ke depannya bisa bikin bisnis bareng amin! Berbeda, tapi tetap satu dan dapat saling melengkapi.

Lalu apa yang didapat selama 10 tahun ini?

Mengesampingkan Ego

“It takes one to go fast, but together to go further.”
Manusia memang punya sikap ego. Itu sudah jadi semacam human nature. Dengan ber-partner kita belajar untuk mengesampingkam ego, berpikir logis, dan fokus terhadap tujuan bersama.

It’s amazing to see the grow of a person, especially the beloved one.

Kenal dan pacaran dari jaman SMK, kami berdua tahu bagaimana kami bertumbuh. Pandangan kami, mindset kami, kebiasaan kami, hampir semuanya kami rasakan dan lihat satu sama lain. Rasanya lucu ketika mengingat kami berdua dulu sama-sama naif, sama-sama wagu dan sama-sama memiliki pandangan yang dangkal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, pandangan dan sikap kami berubah. Saya yang tadinya sangat childish, belajar sebagai Nee-San buat Zaga. Belajar mengambil keputusan dan belajar memimpin. Zaga yang tadinya keras dan kaku sama orang, jadi belajar lebih selow dan lebih sosial. Saya dulu sangat cuek soal penampilan dan tomboy. Sekarang jadi lebih feminin. Zaga dulu kelihatan cupu abis, sekarang jadi punya jambang dan malah jadi mas-mas hot!

Memiliki Number #1 Supporter dan Lebih Nyaman Menjadi Diri Sendiri

Aku rasa, salah satu alasan mengapa kami bisa bersama 10 tahun ini adalah karena kami menjadi supporter untuk satu sama lain. Zaga selalu support setiap pemikiranku, visi-visiku dan kegiatan yang aku lakukan. Begitupun aku, selalu support dengan hal yang dia lakukan, mau itu soal game, pemikiran, cita-cita dan lain sebagainya. Zaga nggak pernah sekalipun menjelekkan visi & cita-citaku, bahkan pemikiranku. Tapi, jika salah seorang diantara kami punya pemikiran atau perilaku yang salah, yang lain juga tidak segan untuk mengkritik dan mengingatkan. Walaupun marahan, tapi kami instropeksi dan akhirnya menerima untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi kami berdua nyaman menjadi diri sendiri, tidak memiliki topeng dan sesuatu yang disembunyikan. Kami menjadi teman, sahabat, partner, kakak-adik, guru-murid, pasangan, kekasih, apapun itulah. Dan hubungan ini tidak membosankan, malah sangat indah sekali.

Duh banyak sebenernya, tapi mungkin itulah garis besarnya… rasanya pacaran 10 tahun dan apa yang kamu dapatkan. Untuk melalui 10 tahun itu tidak mudah. Tapi jika kamu bertahan dengan orang yang tepat, it is worth it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED POST

Tutorial Bikin Rekening Dana Nasabah di Mandiri Sekuritas

Satu hal yang bikin males untuk mulai berinvestasi saham adalah : Bikin Rekening Dana Nasabah (RDN). Konon katanya, bikin RDN…

#Nongkrong di Hierarchy Society, Cafe Unik di Tengah Kampung Batik

Hierarchy Society bagai mutiara hitam yang tidak disangka-sangka ada di belantara Kota Budaya. Cafe ini unik & menawarkan experience yang…

Dinner Romantis di O SOLO MIO

Seperti biasa, setiap tanggal 14 Maret aku & Zaga merayakan WHITE DAY yang juga merupakan hari jadian kami. Biasanya, dekat-dekat…

Scroll Up